Banyak pengalaman dan pelajaran baru yang saya dapat dari kegiatan live in desa kemarin. Sangat banyak pengalaman yang saya dapat yang saya tidak bisa sebutkan satu per satu. Mungkin dengan cerita kegiatan saya pada saat live in kemarin, bisa terlihat pengalaman-pengalaman yang saya dapatkan. Berikut adalah cerita pada saat saya pergi live in ke daerah Wonogiri.
Pada hari Minggu tanggal 9 November 2008, saya bersama peserta live in desa lainnya pergi menuju kota Wonogiri, Jawa Tengah untuk melakukan kegiatan live in selama 4 hari lamanya. Sebelum berangkat, kita semua diberikan sedikit informasi dari Pater Sigit. Setelah selesai meloading barang masing-masing ke dalam bus, kurang lebih pukul 4 sore saya dan peserta live in desa lainnya dengan rombongan delapan bus pun berangkat bersama-sama. Di dalam bus, saya dapat menonton film yang telah disapkan oleh panitia acara sebelumnya sehingga tidak merasa bosan didalam bus tersebut. Saya pun tidur didalam bus karena perjalanan tersebut memakan waktu kurang lebih 12 jam. Didalam bus, saya bersinda gurau dengan teman-teman sambil bernyanyi-nyanyi bersama. Bus tersebut melewati 3 tol dah 2 pemberhentian sebelum sampai di kota Wonogiri. Diperjalanan ternyata ada 1 bus yang mengalami kerusakan pada mesinnya sehingga kita semua harus menunggu kurang lebih 1 jam.
Karena kerusakan salah satu bus tersebut, para peserta live in mengalami keterlambatan kedatangan di paroki. Saya sampai pada pukul 8 pagi di gereja Ignatius, Wonogiri dan langsung disambut oleh pastor paroki dan frater. Dengan segala perasaan lelah, kami menunggu untuk menyantap makan pagi bersama. Makan pagi itu menurut saya sangat enak sekali karena kami diajak untuk mencobai makanan khas jawa yaitu pecel serta tahu dan tempe. Setelah menyantap makan pagi bersama, pastor paroki tersebut memberikan sedikit kata sambutan yang intinya adalah agar kita semua siswa-siswa SMA Kanisius dapat merasakan kehidupan di desa yang jauh berbeda dengan kehidupan di kota. Setelah itu diadakan upacara pembukaan dimana bendera live in diserahkan kepada pastor paroki yang berarti dimulailah kegiatan live in 2008 ini. Setelah selesai, saya menuju kelompok dari desa saya yaitu desa Jatisawit untuk menuju ke mobil dan diangkut menuju rumah masing-masing. Saya menaiki mobil dengan kap terbuka seperti mobil untuk mengangkut sapi. Saya merasa senang karena saya belum pernah sebelumnya menaiki mobil seperti itu. Setelah sampai dirumah masing-masing, saya disambut oleh keluarga yang saya tinggali selama 4 hari. Bapak yang menerima saya bernama bapak Suyadi dan ia bekerja sebagai petani di sawah. Ia memiliki 3 anak dan 2 nya sudah bekerja di Jakarta dan 1 lagi sedang bersekolah di SMP Pangudi Luhur yang bernama Guruh. Pertama kali datang, saya ditunjukkan kamar yang akan saya gunakan dan rumah itu masih bertembokkan kayu. Setelah itu, saya diajak untuk minum teh manis dan mengobrol-ngobrol dengan ibu bapak dari orang tua saya itu. Setelah itu, saya berberes-beres diri dan mandi lalu beristirahat. Setelah makan malam, saya berkumpul diruang keluarga karena banyak tetangga yang datang untuk berkenalan dengan saya. Saya belajar dari hal tersebut bahwa orang desa memiliki rasa persaudaraan yang sangat tinggi walaupun dengan orang yang masih asing bagi mereka.
Pada hari Selasa, saya melanjutkan kegiatan live in tersebut dan saya bangun terlalu siang sehingga saya tidak sempat membantu memasak pada pagi hari. Setelah mandi dan sarapan pagi, saya diajak oleh ibu untuk pergi ke lading mengambil makanan ternak yang berupa rumput dan padi yang sudah kering. Saya senang karena saya bias merasakan pergi ke sawah dan membawa rumput-rumput yang berat tersebut. Setelah itu, saya kembali ke rumah dan membantu ibu menyiapkan makanan untuk makan siang bersama. Pada sore hari, saya bermain bersama dengan Guruh diruang keluarga sampai tidak sadar sudah malam. Setelah makan malam, ada beberapa saudara dari bapak dan ibu yang datang untuk bermain. Saya pun ikut mengobrol bersama sampai larut malam. Pada pukul 9 saya pun kekamar dan tidur.
Pada hari Rabu, saya kembali merasakan kehidupan didesa yang bias banyak saya pelajari dari mereka. Pada pagi hari, saya membantu ibu memasak karena suasana diluar hujan sehingga saya tidak bias ke sawah kembali karena jalanan yang licin disawah tersebut. Untuk menigisi waktu, saya mengobrol-ngobrol dengan ibu dan saling bertukar pengalaman antara kehidupan didesa dan dikota. Saya sangat terharu karena ibu bias menerima saya dalam keluarganya yang serba kekurangan tersebut. Setelah sore hari pun tiba, saya berkumpul dengan 6 orang teman saya untuk berjalan ke desa Jatisawit. Sebelumnya saya meminta sedikit denah menuju desa tersebut karena desa tersebut sangat jauh. Dengan 6 orang teman saya, saya berjalan perlahan-lahan sambil mengobrol dijalan. Dalam perjalanan tersebut, saya melewati sawah-sawah dengan udara sejuk serta dikelilingi dengan pengunungan. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena saya masih diberikan kesempatan untuk melihat pemandangan seindah ini. Setelah saya berjalan kurang lebih 1 jam, saya akhirnya sampai didesa Jatisawit dan langsung mengumpulkan teman-teman yang lain untuk membicarakan acara besok menuju ke SMA Pangudi Luhur, Wonogiri. Setelah mendapatkan keputusan bersama yaitu menyewa mobil untuk pergi ke SMA PL tersebut, kami pun kembali kerumah. Hari pun sudah sangat larut malam lalu saya berpikir kalau kita kembali berjalan pasti kita semua akan menyasar. Oleh sebab itu, kami kembali menyewa mobil untuk kembali ke rumah kami masng-masing. Saya sangat takut kalau-kalau ibu dirumah menyari saya. Ternyata benar setelah sampai dirumah, ibu menyari saya dan menanyakan abis dari mana. Lalu saya meminta maaf karena pulang sangat telat. Setelah itu, saya mandi dan berberes diri lalu saya makan bersama-sama keluarga dengan makan sambal bawang yang rasanya enak sekali. Setelah itu saya kembali ke ruang keluarga dan mengobrol dengan Guruh dan bapak dan jam stenga 10 pun saya kembali tidur.
Pada hari selanjutnya yaitu hari kamis, saya bangun pagi-pagi untuk siap-siap pergi ke SMA Pangudi Luhur. Pada pukul 7 pagi, saya sudah berkumpul dirumah salah satu teman saya karena akan dijemput ditempat tersebut. Saya pun akhirnya berangkat dengan menggunakan mobil kap terbuka kembali menuju SMA tersebut. Setelah menuggu samapai jam 9, saya berserta teman-teman dari desa yang lain masuk ke SMA tersebut. Disana kami semua disambut dengan sangat meriah oleh siswa-siswi SMA PL. Pertama kita mengikuti sedikit acara pembukaan acara tersebut dengan berbagai pidato. Setelah itu, dilanjutkan dengan acara olahraga bersama-sama. Olahraga yang dipertandingkan adalah futsal dan volley. Setelah bertanding kedua cabang tersebut, kami menerima kekalahan karena pemain-pemain dari SMA PL sangat hebat dan jago. Tetapi itu semu tidak masalah yang terpenting adalah kita semua mendapatkan pertemanan yang baru dengan siswa SMA PL. Setelah jam 12 siang, kami pun pamit untuk pulang ke rumah masing-masing dan kembali naik ke dalam mobil. Setelah sampai dirumah, ibu saya telah menunggu dan telah disiapkan makanan. Setelah makan, saya kembali ke ruang keluarga dan melihat Guruh yang sedang belajar. Lalu saya menghampirinya dan membantu mengajarkan pelajaran yang ia tidak mengerti. Pada saat itu ia sedang mengerjakan pr bahasa inggris dan lalu saya membantu mengajarkannya. Pada malam hari setelah makan malam, saya diajak oleh ibu untuk mengunjungi salah satu rumah dari keluarga ibu untuk pamit karena pada besok hari saya sudah harus kembali ke Jakarta kembali. Disana saya disambut dengan senyum dari keluarga ibu tersebut dan saya sempat mengobrol-ngobrol sedikit. Setelah selesai, saya pun pamit untuk pulang dan keluarga itu memberikan pesan untuk saya untuk rajin belajar agar menjadi orang yang sukses di masa yang akan datang. Setelah tu, saya pun pulang dan dirumah ternyata ada tamu tetangga yang datang dan saya pun sekaligus pamit kepada mereka. Setelah itu, saya kembali kekamar untuk berberes-beres untuk pulang besok hari dan kemudian saya tidur agar bisa bangun pagi pada esok hari.
Pada hari Jumat, saya bangun pukul 5 pagi untuk bersiap-siap karena pada pukul setengah 7 saya sudah dijemput dengan mobil untuk kembali berkumpul digereja. Setelah mandi, saya diajak sarapan pagi yang mereka makan bersama terakhir dengan keluarga tersebut. Disitu saya sekaligus mengucapkan rasa terima kasih saya kepada bapak dan ibu karena sudah menerima saya dalam keluarga tersebut dan memperbolehkan saya untuk belajar banyak dari mereka dan juga saya meminta maaf atas segala perlilaku dan perkataan saya yang mungkin tidak berkenan. Setelah makan, saya pun memberikan sedikit bingkisan dari sekolah ke pada ibut tersebut dan setelah itu ibu pun meberikan banyak pesan untuk saya agar menjadi orang yang sukses dan selalu mengingat mereka setelah pulang nanti. Pada pukul 7 pagi pun saya dijemput dengam mobil dan langsung menuju ke gereja. Di gereja saya bertemu dengan teman-teman saya dari desa lainnya dan saling bercerita satu dengan lainnya. Setelah itu, saya langsung pergi menuju goa maria Sendang Ratu Kenya yang tidak jauh dari gereja tersebut. Setelah berjalan dengan jalan yang naik turun seperti itu, akhirnya saya pun sampai dan langsung menuju ke kapel untuk melaksanakan misa penutupan. Selama kurang lebih satu jam misa tersebut, saya kembali ke gereja untuk melakukan santap siang bersama dengan teman-teman peserta live in. Setelah itu, dilanjutkan dengan acara penutupan oleh pastor paroki dengan menyerahkan kembali bendera live in kepada sekolah yang menandakan bahwa live in desa 2008 telah selesai. Lalu, saya pun langsung kembali menuju bus untuk melakukan perjalanan kembali ke Jakarta. Dengan beriring-iringan bersama 8 bus lainnya, saya keluar dari gereja Ignatius dan langsung menuju ke Pekalongan untuk melihat batik-batik. Karena sampai di Pekalongan sudah larut malam, maka kita hanya 1 jam ditempat tersebut dan langsung kembali ke Jakarta. Setelah hampir 14 jam di bus, saya pun akhirnya kembali ke Jakarta pada pukul 4 pagi dan langsung kembali ke rumah.
Dari kegiatan live in desa ini, saya mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran baru dari mereka yang merupakan orang desa. Sikap yang bisa kita ambil adalah sikap untuk menjalin persaudaraan yang tinggi dengan orang lain walaupun orang tersebut kita tidak mengenalinya. Dari kegiatan ini, kita diajak untuk merasakan betapa susahnya mencari uang pada rakyat di desa. Saya juga belajar untuk menghargai dan bersyukur dengan apa yang saya peroleh dan mengucapkan syukur dengan orang tua saya yang telah merawat saya sejak kecil.
-the end-
Wednesday, November 26, 2008
Thursday, October 16, 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)
